Thursday, 31 July 2014 - 22:26
English
Breaking News

Morsi Tamat, Siapa Dalangnya?

Kepala SCAF dan Menhan Mesir Jenderal Fattah al-Sisi
Terkait :

teRasposSejak pertama kali kudeta militer di terjadi Mesir tahun 1952,  tentara menjadi pemain kunci politik di negeri itu. 

Merekalah sebenarnya pembuka jalan bagi pemimpin-pemimpin macam Gamal Abdul Naser hingga Hosni Mubarak yang terguling oleh gelombang Musim Semi yang melanda Timur Tengah.

Tentara absen ketika Mohamed Morsi terpilih secara demokratis melalui pemilu, namun  di bawah kepemimpinan Fattah al-Sisi mereka kembali tampil sebagai kekuatan penentu ketika Rabu (3/7) menggusur Morsi dari kursi kepresidenan.

Fattah diangkat Morsi untuk mengisi jabatan sebagai Kepala Dewan Tertinggi Angkatan Bersenjata atau SCAF sekaligus Menteri Pertahanan. Dialah yang berperan penting dalam pendongkelan Morsi.

Meski jelas-jelas menggusur Morsi, Fattah  bersikeras menolak langkah itu disebut kudeta. Mereka mengklaim mewakili suara rakyat dan berjanji menyerahkan mandat kepemimpinan segera setelah presiden baru terpilih dan sebuah konstitusi baru disetujui.

Selain militer pemain kunci di Mesir saat ini berturut-turut adalah, Ikhwanul Muslimin, Tamaroud, Tajarroud, Al-Nour dan Partai Salafi, Front Keselamatan Nasional, Al-Azhar dan Gereja Koptik. 

Pemberontak

Ikhwanul Muslimin adalah organisasi tertua dan bagaimanapun terbukti menjadi yang terbesar di Mesir. Mereka menuai dukungan masif pasca lengsernya Hosni Mubarak yang pernah membekukan kegiatan mereka di masa lalu. Melalui sayap politiknya yakni Partai Kebebasan dan Keadilan mereka berhasil merebut jabatan presiden melalui Mohamed Morsi. 

Dengan agendanya yang konservatif partai itu berhasil mendominasi parlemen dan merebut lebih dari 51 persen dukungan saat pemilihan presiden. Namun hanya berselang setahun, dukungan publik bagi mereka dan Morsi merosot drastis yang berujung pada pendongkelan Morsi oleh tentara. Bahkan markas Ikwanul menjadi sasaran penjarahan selama protes yang menyebabkan kejatuhan Morsi itu.

Tamaroud yang dalam bahasa Arab berarti pemberontakan adalah kekuatan utama dibalik aksi jutaan massa di Kairo dan kota besar lain dalam sepekan terakhir. Kelompok ini didirikan April lalu oleh anggota Gerakan Perubahan untuk Mesir, sebuah kelompok yang menentang Mubarak bahkan sejak sebelum revolusi 2011. 

Kelompok ini dianggap mewakili ketidakpuasan pemuda atas politik Mesir. Mereka memanen  dukungan melalui kampanye di internet dan media sosial. Mereka bahkan mengklaim didukung 22 juta tandatangan dalam petisi yang menuntut pengunduran diri Morsi.

Mereka menyalahkan Morsi atas meningkatnya kriminalitas, miskinnya ekonomi Mesir, dan berkembangnya pengaruh AS di Mesir. Kelompok ini sejak semula sudah tergabung dengan Front 30 Juni sebuah koalisi praktis yang menentang pengaruh Ikhwanul Muslimin.

Untuk menghadapi kelompok Tamaroud, pendukung Morsi meluncurkan kampanye saingan yang disebut dengan tajarroud yang berarti ‘ketidakberpihakan’ sekaligus mengkordinasikan protes di Kairo. Mereka mengklaim didukung 10 juta tanda tangan dalam sebuah petisi yang mendukung Morsi.

Pengkhianat

Al-Nour adalah partai kedua terbesar di Mesir yang berembrio pada revolusi 2011, meski mendukung Morsi dan Ikhwanul Muslimin agenda kelompok ini tetap tak berubah yakni pemberlakuan hukum Syariah di Mesir.

Kelompok ini meninggalkan Ikwanul dan Morsi serta bergabung dengan ‘roadmap’ politik yang digagas tentara. Ikhwanul dan Morsi mencap kelompok ini sebagai pengkhianat.

Pemain lain yang diperhitungkan dalam politik di Mesir adalah Front Keselamatan Nasional yang merupakan aliansi pragmatis partai-partai politik dan blok oposisi terbesar. Tokoh utama kelompok ini adalah mantan pengawas nuklir PBB Mohamed ElBaradei.

Secara umum kelompok ini dianggap tak terlibat dalam penggulingan Morsi, namun tentara meliriknya sebagai alternatif kekuatan yang pantas didukung.

Selain partai pemain kunci politik di Mesir adalah Al-Azhar dan Gereja Koptik. Al-Azhar bagaimanapun langsung terpinggirkan sejak  karena Ikhwanul Muslimin berkuasa di Mesir. Sebelumnya mereka menuduh Ikhwanul Muslimin berusaha ‘mengambil alih’ Al-Azhar dengan menempatkan tokoh mereka.

Pendirian Al-Azhar dapat ditelusuri kembali hingga ke dinasti Fatimiyah lebih dari seribu tahun yang lalu. Pemimpin Al-Azhar  Imam Besar Ahmed El-Tayyeb terang-terangan menjadi pengkritik paling keras atas Morsi. Dia mendukung protes penggulingan Morsi dan menyebutnya sebagai “persatuan semua rakyat Mesir”

Sementara itu Gereja Ortodoks Koptik Mesir memuji protes massa terhadap Morsi. “Indah melihat orang-orang Mesir mengambil kembali revolusi yang dicuri dengan cara damai".

Paus Tawadros II menjabat sejak setahun lalu dan dilaporkan telah bertemu dengan ElBaradei dan mufti dari otoritas keagamaan atas Sunni Islam.

Dia memimpin setidaknya 4-8 juta minoritas Kristen di Mesir yang sepanjang kekuasaan Ikhwanul Muslimin selalu mengeluhkan perlakuan diskriminatif.(*)



blog counter