Thursday, 31 July 2014 - 06:10
English
Breaking News

Sefti, Bilik Khusus dan Hak Dasar

Sefti Sanustika di Gedung KPK (Foto: Eddy Tarigan/Teraspos)
Terkait :

Mungkin sudah terbiasa berjalan cepat, Sefti Sanustika jadi terlihat selalu melangkah tergesa. Begitu juga Kamis pekan lalu saat mendatangi Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi.

Baju dan jilbab biru wanita berkulit putih dan berhidung mancung itu berkibar-kibar mengikuti langkahnya. Begitu juga parfumnya yang semerbak. Sejak suaminya ditahan KPK karena kasus suap pengaturan kuota impor daging lima bulan lalu, mau tidak mau Sefti memang harus rutin menyambangi Gedung KPK.

Selain beberapa kali harus memenuhi agenda pemeriksaan, selama lima bulan terakhir setiap Kamis Sefti rutin menyambangi KPK membesuk suaminya yang menjalani tahanan di Rutan Cipinang Jakarta Timur cabang KPK. Selebihnya, Sefti selalu menarik perhatian dan memicu kontroversi. Termasuk keinginannya untuk disediakan ruangan untuk bercinta dengan suaminya.

Keinginan untuk dibuatkan ruang khusus itu terbersit saat Sefti ditanya perihal kerinduannya pada Fathanah. Dia mengaku kangen berat  pada suaminya dan berharap KPK memfasilitasi keinginan itu termasuk menyediakan ruangan khusus untuk melakukan hubungan suami istri. “Kalau disiapin senang juga. Kangen juga kan sudah lima bulan,” kata Sefti.

Seminggu berselang ketika dia kembali menjenguk suaminya, dengan nada mantap Sefti akan berkirim surat kepada KPK agar disediakan ruang khusus itu. “Sudah proses dibikin, nanti akan diserahkan ke KPK,” kata Sefti.

Ditolak KPK

Namun belum sempat surat dilayangkan, keinginan Sefti sudah dicegat KPK. Juru Bicara KPK Johan Budi SP menyebut lembaganya menolak menyediakan ruangan khusus untuk bercinta bagi tahanan.  “Kita tidak bisa memenuhi keinginan pengunjung untuk menyediakan bilik asmara atau bilik untuk berhubungan intim.”

Menurut Johan, Rutan KPK adalah tempat penitipan sementara untuk koruptor. Sehingga KPK tidak menyediakan ruangan khusus, KPK hanya menyediakan ruangan tatap muka antara pengunjung dengan tersangka.  “Karena sifatnya di tahanan KPK ini kan hanya sementara, kalau di LP setahu saya ada.”

Johan juga menyebut penolakan itu tidak melanggar hak asasi manusia karena sebagai tahanan memang ada banyak hak-hak tersangka yang dibatasi.  “Anda tidak bisa ke mal misalnya  apalagi sampai berhubungan intim.”

Johan pun meminta kepada Sefti agar bersabar untuk sementara waktu. “Tahanlah, KPK tidak menyediakan bilik asmara. Jadi sementara, tidak bisa memenuhi keinginan pengunjung untuk disediakan bilik asmara atau bilik untuk melakukan hubungan intim.”

Penegasan soal ruangan khusus itu ditegaskan Ketua KPK Abraham Samad. Dia menyatakan komisinya memang tak menyediakan ruangan khusus bercinta karena memang tak ada ketentuan yang mengatur.  “Saya melihat tidak ada ketentuan yang memungkinkan untuk memberikan izin itu.”

Dia menyebut orang yang menjalani hukuman pada dasarnya kebebasannya dibatasi termasuk aturan yang mengatur tentang disediakannya bilik khusus di dalam tahanan. “Ya namanya orang di penjara kebebasannya harus dibatasi, tidak boleh bebas seperti orang diluar. Dan tidak ada itu melanggar HAM, kalau mau bilik asmara itu di luar kita tidak beri izin.”

Sementara itu, menurut Ketua Paguyuban Narapidana Rahadi Ramelan ruangan khusus bercinta memang perlu untuk disediakan. Jika tidak difasilitasi maka yang akan muncul adalah pelanggaran-pelanggaran aturan baru.

Menurut pengalaman Rahadi,  yang kemudian terjadi adalah para napi melanggar aturan demi memuaskan hasrat biologis mereka. Termasuk dengan memanipulasi izin berobat ke dokter. “Izin ke dokter padahal tidak perlu ke dokter, tapi ketemu istri. Izin-izin juga banyak nggak benar banyak yang diloloskan.”

Rahadi juga tak menampik rumor ruangan khusus bercinta dengan tarif tinggi di setiap Rutan atau LP.  Rahadi meminta agar aturan ruangan khusus bercinta segera direalisasikan agar tak ‘terpeleset’ menjadi praktik prostitusi.  “Masalahnya kan cuma satu, kalau disediakan ruang khusus apa betul itu istrinya. Jangan sampai dipakai prostitusi.”

Terkendala Anggaran

Sebetulnya, aturan tentang ruangan khusus bercinta sudah pernah digagas oleh mantan Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar pada tahun 2010. Bahkan Patrialis sudah membuat draft mengenai aturan tersebut.

DPR pun sudah memberikan lampu hijau terkait usul tersebut. Patrialis beralasan seks adalah kebutuhan biologis dan menjadi hak seseorang bahkan bagi napi sekalipun. Namun hingga saat itu mandek.

Patrialis mengatakan ada dua kendala mendasar untuk merealisasikan usulan bilik khusus itu yakni soal anggaran dari APBN dan izin tokoh agama.  “Menurut saya, memang harus dibuat aturan yang jelas mengenai ruangan khusus bercinta .  Karena seorang terdakwa atau tersangka masih memiliki hak sesuai KUHAP, meski pun hak untuk diberikan ruangan khusus bercinta bersama istri yang sah belum diatur.”

Di Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana hak-hak tersangka atau terdakwa di pasal 50-68 hanya mengatur tentang proses hukum dan hak-hak formal termasuk mendapat pemeriksaan, percepatan proses hukum, hingga kunjungan dokter, keluarga dan rohaniawan.

Pada pasal 60 yang menyebut kunjungan keluarga bisa ditafsirkan secara luas seorang tersangka atau terdakwa seperti Ahmad Fathanah difasilitasi ruangan khusus ketika sang istri Sefti Sanustika mengunjunginya. Namun, fasilitas khusus  itu dianggap tak termasuk ruang untuk bercinta karena memang landasan yuridisnya belum ada.  

Kementerian Hukum dan HAM di Lembaga Pemasyarakatan sebaiknya diberikan setelah seorang tersangka atau terdakwa berstatus terpidana atau warga binaan dimana tanggung jawab sepenuhnya baik secara hukum maupun administrasi ada di lembaga pemasyarakatan, dan lembaga pemasyarakatanlah yang menyiapkan bilik bercinta ini kepada terpidana atau warga binaan.

Pada dasarnya, sebagai meski dibatasai haknya namun  pembatasan itu tak mencakup hak mendasarnya termasuk soal kebutuhan biologis. Selain itu, istri yang ditinggalkan juga memiliki hak untuk diberi nafkah batin.  Pemberlakuan ruangan khusus itu harus diawasi secara ketat agar tidak terjadi tergelincir menjadi praktek prostitusi terselubung, terlebih bagi narapidana koruptor yang dianggap memiliki uang lebih.(*)



blog counter