Insentif Pajak Impor Alkes Bakal Dihapus, Harga Masker Bisa Naik

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) akan mengevaluasi insentif pajak impor alat kesehatan (alkes) seiring dengan meredanya pandemi dan penurunan volume alkes impor.

“Dilihat dari sisi pemanfaatan volume dan nilai impornya, signifikan turun, tentu insentif fiskalnya juga menurun,” terang Direktur Fasilitas Kepabeanan Bea Cukai Untung Basuki kepada CNNIndonesia.com, Senin (6/6). Kendati demikian, ia tidak menegaskan insentif fiskal yang dimaksud akan dihapus atau dikurangi. Namun, sebelumnya Kemenkeu meniadakan pajak impor alkes.

“Evaluasinya menyeluruh termasuk apa masih diperlukan (insentifnya), terutama insentif untuk impor oleh swasta,” jelas Untung. “Besok rapat di level teknis. Nanti hasilnya baru disampaikan ke pimpinan untuk diputuskan,” lanjutnya. Apabila pajak impor alkes kembali diterapkan, berarti alkes seperti oksigen, masker, alat tes, hingga obat-obat terapi covid-19 akan dikenakan bea masuk dan/atau cukai serta pajak saat Indonesia membeli dari luar negeri.

Diketahui, Indonesia mengimpor 20 jenis alkes tiap tahunnya, yang mencakup pembersih tangan alias hand sanitizer, alat tes PCR, ventilator, virus transfer media, masker hingga alat pelindung tenaga kesehatan lainnya, seperti sarung tangan dan face shield.