Ilustrasi dokter/dok. Unsplash Hush Naidoo

Dokter adalah Pahlawanku, Pahlawanku adalah Dokter

Teraspos.com – Tak terasa nuansa Hari Pahlawan menjenguk Indonesia, berdentang mengukir dan menjelajah tiap sudut bangsa, penuh rona dan napas perjuangan untuk meraup kemerdekaan. Nafas perjuangan yaitu disiplin perjuangan bangsa yang tak lekang dengan waktu, hingga saat ini. Salah satu ‘ikon’ di TNI “disiplin yaitu napasku” sudah menjadi budaya yang mengkalbu, karena mengeratkan jiwa korsa untuk tetap menempa jiwa-jiwa kejuangan.

Jiwa kejuangan yaitu rantai-rantai afektif yang mengalir dan ditempa tak semata oleh satu tantangan dan problematika. Namun beraneka kesulitan bak derasnya air mengalir dari hulu yang perlu diurai dengan integritas tangan-tangan bersih dan jujur menjadi aliran-aliran kecil yang memberikan manfaat sungai-sungai kecil dengan keanekargaman hayatinya.

Jiwa kejuangan adalah substansi kehidupan yang perlu direngkuh dengan segenap keikhlasan hati, menguak peredaran tubuh dengan tenaga-tenaga biokimia untuk menjadikan karakter kepribadian tanpa pamrih dan berkorban dengan ketulusan tanpa sekat. Ketulusan adalah bunga mekar yang akan menyenangkan bagi yang memetiknya.

Jiwa keikhlasan dan peduli berkorban mewarnai dokter-dokter di masa pengorbanan menjelang kemerdekaan, mereka menembus sekat-sekat mikroskopis kedokteran merambah ruang terbuka makroskopis bidang di luar kedokteran, mewujud peran di bidang sosial, politik dan dukungan kesehatan perang gerilya. Ilmu kedokteran yang didapat seolah menjadi landasan sosiologis yang mengantarkan paradigma berpikir, beragumentasi, analisa dan pengambilan keputusan titik kritis kebangsaan.

Kita mengetahui peran dokter-dokter di masa kemerdekaan berdonasi varian-varian spirit kebangsaan, bagus sumbang anjuran dan implementasi untuk terwujudnya proklamasi kemerdekaan. Dr Sutomo, Dr Wahidin, Dr Tjiptomangunkusumo, Dr Abdul Rachman Saleh, Dr Moewardi, dan banyak lagi dokter-dokter bagus militer dan sipil lainnya, meninggalkan cita dan jejak sejarah kesehatan bangsa nan ranum.

Pada hari Kamis, 3 November 2022, Menko Polhukam Mahfud Md mengumumkan Pahlawan Nasional 5 putera pejuang dan pengisi kemerdekaan Indonesia. Dari kelima tokoh tersebut terdapat dua orang dokter, adalah Dr dr HR Soeharto dan dr R Rubini Natawisastra, Dr dr HR Soeharto diusulkan sebagai Pahlawan Nasional, selain sebagai dokter pribadi Soekarno dan pelopor Ikatan Dokter Indonesia. Pengurus IDI dikala ini memiliki perhatian utama kepada peran sejarah Dr dr HR Soeharto, dan diabadikan sebagai nama Gedung PB IDI di Jalan Samratulangi No 29 Jakarta Pusat.

Jejak Kerakyatan Dokter

ilustrasi dokter/Photo by rawpixel.com from Pexels

Apakah pernah mendengar dan sempat menonton episodik serial Dr Sartika di TVRI? Para dokter yang berkecimpung saat Orde Baru pasti mengenal interaksi peran yang dibangun secara ideal, pengabdian dokter di masyarakat. Wahana saat itu modeling Dokter Puskesmas yaitu skor keteladanan yang dianut.

Bagaimanapun dengan serial hal yang demikian membangun spirit peran dokter di bidang kerakyatan, keswadayaan dan kemandirian, adanya suatu skor alternatif memaksimalkan Institusi Swadaya Masyarakat (LSM) sebagai wadah partisipasi jalur akar rumput. Peran dokter yang berjiwa volunter tersalurkan memaksimalkan kreativitas baru yang berkemampuan membikin terobosan-terobosan berupa bottom-up planning, dengan tujuan terciptanya kemandirian kesehatan yang di tengah masyarakat untuk menghadapi problematika kesehatan yang semakin rumit, menghadapi transisi demografi dan epidemiologis.

Ketika itu, peran dokter keswadayaan menumbuhkan partisipasi masyarakat mendidik kader-kader kesehatan via PKMD dan LKMD, sebagai komponen enterpreunership Posyandu. Pengabdian keswadayaan hal yang demikian memaksimalkan fungsi pelengkap dalam pendidikan dan pelatihan kader-kader kesehatan di pedesaan secara kontinu sebagai peran membuka jalan (enabling) dan menyokong (supporting) program kesehatan di tingkat akar rumput untuk memaksimalkan kesehatan mandiri (self-care) di setiap desa.

Jejak Integrasi Kebangsaan Generasi Dokter Milenial

Kita memahami, tiap dokter sejak menjejak cita di Fakultas Kedokteran telah menatap tajam masa depan seperti yang mau diraupnya. Cita yang tidak semata mencontoh pembelajaran di kelas, lab dan pengabdian kesehatan di masyarakat.

Di era Pemerintahan Orde Baru dengan pendekatan birokrasi struktural, cita dan perspektif ke depan direngkuh dengan pola terbatas, adalah pengabdian dokter puskesmas atau menjadi dosen, yang selanjutnya bisa mencontoh pendidikan ahli, pola dan sistem yang belum membuka cita dan berpikir out the box, atau sekiranya mencontoh istilah Edward De Bonno berpikir lateral dengan terobosan-terobosan yang melampau batas-batas definisi. Setidaknya dengan pola saat Orde Baru, Metode Kesehatan Nasional adalah otorisasi yang membawa gerbang perubahan menuju derajat kesehatan yang lebih bagus.

Era saat ini adalah era terbukanya kotak pandora batas-batas definisi. Digitalisasi teknologi telah mengubah pola pikir statis menuju pola pikir dinamis dan lateral. Teknologi kedokteran yang sedemikian pesat mensupport perkembangan keilmuan dan tata krama untuk beriring secara beriringan. Telah tentu, tantangan yang timbul adanya meningkatnya kesenjangan kebutuhan masyarakat akan pemakaian teknologi kedokteran untuk ketepatan terapeutik dengan epistemiologi keilmuan terpenting berhubungan dengan tata krama dan science of human being.

Digitalisasi teknologi kedokteran adalah turning point tumbuhnya pahlawan-pahlawan dokter yang mengabdikan keilmuannya dengan riset yang berbasis bukti untuk mendapatkan inovasi baru, dan pahlawan pahlawan dokter muda yang diharapkan memberikan kontribusi pemberdayaan beraneka teknologi kabar kedokteran sebagai medical influencer.

Medical Influencer diharapkan menjadi titik tumpu Ikatan Dokter Indonesia (IDI) masa depan, bergerak dengan segenap potensinya berakar di masyarakat. Pergerakan ini membawa angin perubahan terhadap peran dokter sebagai agen pengabdian dan agen pembaharu, sebagai community health movement, bukan tidak mungkin menjadi Dokter Pahlawan – Pahlawan Dokter di masanya. Indikatornya adalah pengabdian tanpa pamrih, berintegritas dan menjunjung tinggi kejujuran, semata untuk mutu hidup sehat masyarakat yang lebih bagus.

Selamat Hari Pahlawan!