Arab Saudi mencatatkan hanya satu kekalahan dalam kampanye kualifikasi Piala Dunia mereka, finis di depan Jepang dan Australia di grup mereka [Ahmed Yosri/Reuters]

Piala Dunia Qatar 2022 : Arab Saudi Mengandalkan Dukungan Jarak Dekat di Piala Dunia 2022

Tetangga terdekat Qatar tidak perlu bepergian jauh dan mungkin hanya tinggal sebentar di turnamen.

Arab Saudi akan menjadi kontingen penggemar terbesar ketiga di Piala Dunia [Darren Staples / Reuters]

Penampilan Piala Dunia sebelumnya: 5
Gelar: 0
Hasil terbaik: Babak 16 besar (1994)
Rekor Piala Dunia: W3 L11 D2
Gol: 11
Kemenangan terbesar: 2-1 vs Mesir (2018) vs Maroko (1994)
Pemain yang harus diperhatikan: Firas al-Buraikan
Peringkat: 51
Jadwal Pertandingan: Argentina (22 November 2022), Polandia (26 November 2022), Meksiko (30 November 2022)

Arab Saudi tidak asing dengan Piala Dunia, setelah bermain di lima turnamen sebelum Qatar 2022.

The Green Falcons akan berupaya untuk mengikuti penyelesaian terbaik mereka dan melaju ke babak metode gugur, seperti yang mereka lakukan pada tahun 1994. Dan mereka akan mendapatkan banyak dukungan mengingat mereka bermain sungguh-sungguh dekat dengan rumah dan di negara yang berbatasan dengan mereka.

Sesudah mendominasi sepak bola regional dan memenangkan Piala Asia dua kali pada 1980-an, Arab Saudi kesudahannya lolos ke Piala Dunia pertama mereka pada 1994 dengan regu all-star. Dipimpin oleh penyerang legendaris Majed Abdullah, regu mempunyai pemain seperti Said al-Owairan, Sami al-Jaber, Fahad al-Bishi dan kiper pemecah rekor Mohamed al-Deayea.

Sesudah keok dalam laga pembuka mereka dari Belanda sedangkan tampil solid, Arab Saudi mengawali laga dengan kuat melawan Maroko dan menentukan skor Piala Dunia pertama mereka dengan kemenangan 2-1. Lomba terakhir mereka dan kans untuk lolos ke babak 16 besar datang melawan Belgia, yang belum kemasukan gol atau keok dalam laga di turnamen 1994.

Lima menit menjelang laga, al-Owairan dapat dibilang mencetak gol paling tenar dalam sejarah Saudi. Gelandang serang itu mengawali larinya dari dalam separo lapangannya sendiri dan membingungkan lima pemain Belgia dalam perjalanannya menuju gawang, di mana dia dengan hening melalui kiper untuk mencatatkan namanya ke dalam buku-buku sejarah.

Saudi bertahan selama 85 menit selanjutnya dan melaju ke babak 16 besar.

Sesudah keluar dari babak penyisihan grup, mereka bersua dengan Swedia yang perkasa yang memimpin lebih permulaan dan tak memperbolehkan Saudi maju terus. Swedia menang 3-1 tapi Saudi memenangkan hati penyokong mereka di rumah dan mereka yang hadir di stadion Cotton Bowl di Texas.

Perjalanan emas mereka berlanjut ketika mereka lolos ke tiga Piala Dunia selanjutnya, dengan pemain baru, tapi tak dapat mencontoh performa 1994 mereka dan gagal memenangkan satu laga malah. Turnamen 2002 membawa terhina kekalahan terbesar Piala Dunia mereka, 8-0 di tangan Jerman.

The Green Falcons kerap kali mengalami perubahan kepelatihan selama tahun 2010-an dan gagal lolos ke Piala Dunia 2010 dan 2014. Mereka akibatnya lolos ke turnamen 2018, dan padahal gagal melaju, mereka meraih kemenangan 2-1 atas tetangga Mesir.

Para Pemain dari Arab Saudi saat ini relatif muda, dengan usia rata-rata hanya 23 tahun.

Pelatih Prancis Herve Renard, yang memimpin Zambia dan Pantai Gading meraih gelar Piala Afrika masing-masing pada 2012 dan 2015, memimpin Arab Saudi pada 2019 dan sudah mengawasi kualifikasi mereka untuk Piala Dunia ini.

Pria Prancis itu sudah mencampuradukkan hal-hal dalam skuad semenjak mengambil alih, dan sudah memberi tahu sebagian wajah baru yang diambil dari skuad U-23, dengan Firas al-Buraikan mengerjakan debut regu seniornya pada umur 19 tahun.

Al-Buraikan sudah mencetak 11 gol dan sekarang menjadi pemain permanen di lini serang Saudi, dengan lini depan yang menjanjikan pantas dengan agenda serangan dari sayap pelatih Renard dalam formasi 4-3-2-1 opsinya.

Kapten Salman al-Faraj, sementara itu, ialah kunci lini tengah Saudi. Dari menolong serangan dengan umpan cermatnya, sampai menjaga serangan lawan konsisten terkendali, al-Faraj berkeinginan kepemimpinannya dapat membawa hasil.

Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman baru-baru ini bersua dengan regu dan mengatakan terhadap mereka untuk tak kuatir perihal walhasil, dan sebaliknya merasakan turnamen.

“Aku tak berharap salah satu dari Anda berada di bawah tekanan psikis yang akan memberi pengaruh daya kerja spontan Anda,” katanya terhadap para pemain.

Tetapi, penggemar Green Falcons masih mempunyai keinginan yang tinggi.

Mereka akan menjadi kontingen penggemar terbesar ketiga di Piala Dunia, berdasarkan angka penjualan karcis, dan diperkirakan akan turun ke Qatar dalam jumlah ribuan.

Sedangkan keluar pada putaran pertama akan menjadi hasil yang diinginkan, tak mungkin penggemar mereka akan menerimanya dengan sepenuh hati seperti putra mahkota mereka.